A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

Temuan Sementara : Pengembangan Master Plan Kakao di Papua : masalah pengelolaan dan pemilikan tanah-sosial (Preliminary Result: Master Plan for Cacao Develoment in Papua: problem in Socio-Land Tenurial and Cultivation Management)

Tim P4W LPPM IPB  (Setiahadi/perencanaan; Baba Barus/SIG-sumberdaya lahan; Supijatno/agronomi;  dan Andi Syah Putra/ekonomi) bekerja sama dengan UP4B (Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat).  Kunjungan lapang ke Kab Keerom, Jayapura, Sarmi, Manokwari, Sorong dan Sorong Selatan. 23 Oktober – 04 November 2013

Ringkasan

Kunjungan lapang yang dilakukan menghasil adanya perbedaan kemampuan pengelolaan kebun kakao  di antara penduduk papua (terdapat perbedaan karakter etnik papua), penduduk campuran dan penduduk pendatang (khususnya transmigran). Di lapangan ditemukan ketidak-hadiran birokrasi pemerintah pada daerah tertentu (Sorong)  tetapi ada juga sangat terasa peran pemerintah mendorong penduduk untuk berkembang (Sarmi). Perilaku masyarakat papua tertentu di wilayah tertentu sangat konstruktif dan menginspirasi  (Jayapura, Keerom dan Sarmi); dan sebagian masyarakat penduduk lokal sangat tergantung ke pemerintah dan selalu mengharapkan uluran pemerintah. Di sebagian masyarakat, upaya membuat proposal sangat menonjol untuk memperbaiki kesejahteraannya (dapat dikategorikan sebagai akibat salah asuh).  Di lokasi tertentu peran pemerintah serba tanggung sehingga permasalahan sangat terlihat di depan mata tetapi tidak pernah ada solusi (Manokwari).  Secara umum perkembangan pengeloan kebun kakao lebih maju di penduduk transmigrasi dan campuran; tetapi ada kelompok penduduk lokal yang sangat baik.

Permasalahan lain yang sangat terlihat di lapangan, adalah munculnya penyakit PBK dan penyakit jamur. Akibat PBK sangat mematahkan motivasi masyarakat mengelola kakao yang sebelumnya sangat prospektif. Saat ini di beberap komunitas sudah terlihat kebangkitan dan berbagai upaya penanaman kembali (dengan sambung samping) sudah terlihat dan menjanjikan.; dan juga pengelolaan yang benar seperti pemangkasan, pemupukan dll sudah terlihat.  Khususnya kakao di penduduk pendatang, selain masalah serangan hama, maka hambatan yang besar adalah adanya klaim pemilikan tanah dari penduduk asli. Di beberapa lokasi proses klaim terjadi, tetapi dari seluruh lokasi yang dikunjungi, klaim termasuk bukan yang mendominasi.

Berbagai potensi dan permasalahan yang ditemukan akan diterjemahkan ke model master plan pengembangan komodoitas unggulan kakao dan diterjemahkan ke berbagai  program pengembangaan yang bersifat operasional dan disajikan secara spasial (laporan akhir akan diselesaikan akhir Desember 2013 dan dapat diperoleh dari UP4B).

 

Comments are closed.