A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparat Pemda dalam Penerapan dan Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Bidang Lingkungan Hidup (Training for development of local government capacity in implementing of minimum standard service for environment – focusing of land for biomass production)

Oleh: Baba Barus. Materi yang disampaikan terkait Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa sesuai PP150. Peserta 25 kabupaten / kota Sumatra. Diselenggarakan PPE Sumatra, KLH di Hotel Nagoya, Batam, 18-21 Juni 2013.

Ringkasan :

Materi yang disampaikan mencakup tentang kriteria kerusakan tanah untuk produksi biomassa khususnya dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatan dana untuk pengumpulan data tanah yang diprintahkan oleh perundangan.  Dalam pertemuan ini muncul berbagai pertanyaan yang layak dipertimbangkan untuk dipahami karena tidak secara eksplisit disajikan dalam PP 150 tahun 2000 tentang Kriteria Baku Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomasa maupun dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup  No 7 tahun 2006 ttg pedoman kriteria baru dan tata cara pengukurannya.

Beberapa hal penting adalah terkait dengan pengambilan sampel utuh dan tidak utuh. Khusus sampel utuh ditekankan tentang perlunya ulangan, sedangkan untuk sampel tidak utuh maka pertimbangan penting adalah pengambilan komposit. Kemudian aspek lain yang perlu disiasati adalah jika dana terbatas, maka tidak perlu dipaksakan pengambilan sampel per lapisan tanah tetapi untuk pada bidang akar akan berkembang (sekitar 1 meter atau kurang). Lebih jauh, jika dana terbatas, maka komponen yang dianalisis juga layak dikurangi. Aspek yang diutamakan tidak perlu dianalisis adalah data biologi, menyusul sifat kimia dan terakhir sifat fisik.  Pertimbangan ini diperlukan karena sifat biologi lebih sulit mengukurnya dan cenderung harus di lapang, sedangkan sifat kimia cenderung  mudah berubah (kecuali untuk tanah gambut).

Dalam pelatihan juga disampaikan tentang perlunya dilakukan verifikasi karena data peta indikasi tanah rusak yang dibuat oleh KLH ada kemungkinan tidak sesuai dengan data lapang. Hal ini terjadi karena skala sumber peta adalah bervariasi dari skala 1:50,000 hingga 1:250,000. Selain itu sumber data juga secara eksplisit menginformasikan kualitas data yang berbeda khususnya data sistem lahan yang dipakai.  Perbaikan ini dapat terjadi pada batas peta, maupun isi peta. Kondisi ini berkonsekuensi, daerah yang disebut terindikasi potensi rusak bisa di lapangan tidak rusak atau sebaliknya.  Dalam kesempatan ini juga disampaikan berbagai kekuatan data dari kegiatan produk PP150 jika dijalankan dan juga kelemahannya sehingga peserta dapat mengoptimalkan standard pelayanan.

Comments are closed.