A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

Kota Sukabumi melindungi sawah dan upaya meletakkan dalam Perencanaan Ruang (City of Sukabumi is Preparing to protect it’s Rice Field and Implementing in Spatial Plan).

Oleh : Baba Barus, Khursatul Munibah, Dyah R Panuju, Dyah Mardyaningsih, Yoyoh M, Nina Widiana, dan Reni Kusumo.  Kerjasama antara PSP3, IPB dengan Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi, 2013). Studi akan diselesaikan pada November 2013.

Temuan Awal

Keinginan melindungi sawah di kota Sukabumi sudah dinyatakan dalam perda penataan ruang dan dinyatakan dalam angka tertentu (321 ha).  Keinginan lebih jauh adalah meletakkan data tersebut dalam bentuk spasial, dan sesuai dengan amanah UU no 41, tahun 2009.  Saat ini luas sawah relatif besar (lebih dari 1600 ha). Sepertinya relatif mudah memilih sawah yang jauh lebih sedikit untuk dilindungi, tetapi pertanyaan lebih lanjut landasan melindungi sawah dalam luasan tersebut juga akhirnya muncul. Selama ini argumen menyelamatkan lahan sawah di beberapa kabupaten (bukan kota…) yang utama adalah kemandirian dan kedaulatan pangan, yang salah satunya diterjemahkan dengan melihat ukuran status surplus produksi (atau lahan) dalam kurun waktu tertentu. Data ini selanjutnya diterjemahkan ke bentuk pemilihan lahan sawah yang paling produktif, lahan sangat sesuai, adanya irigasi, tidak mudah terkonversi dan secara sosial sangat mendukung (lihat studi usulan lahan sawah dilindungi di Kabupaten Garut, 2010 dan Kabupaten Bogor, 2012).  Sedangkan usulan melindungi sawah di kota … adalah bersifat unik, karena visi misi kota umumnya diasumsikan akan selalu mengarah ke jasa, perdagangan, industri dan sejenisnya, dan secara fisik akan membentuk dominansi peruntukan ruang untuk bentuk terbangun (built up area).  Apakah tidak mungkin tutupan kota dominan bersifat bukan bangunan ?

Secara konsep,  jumlah daerah terbangun adalah besar karena keperluan adanya daerah RTH (ruang terbuka hijau) standar minimal adalah 30 persen (UU No 26, tahun 2007), dan mungkin ditambah lagi dengan daerah terbuka di setiap pemukiman.  Jika daerah hijau ditambah lagi (dan dijalankan) maka luasan daerah ‘hijau’ adalah lebih besar dari 30 persen. Tetapi luasan ini tidak mudah mencapai 50 persen … dan kebanyakan kota memiliki luas RTH malah lebih kecil dari 30 persen.  Walaupun demikian, adakalanya suatu kota mempunyai karakter spesifik sehingga sehingga akan ‘dipaksa’ mempunyai wilayah hijau yang lebih luas, seperti adanya kawasan bencana, seperti banyak lereng terjal, rawan longsor, adanya spesies spesifik, dan lainnya.

Apakah Kota Sukabumi mempunyai kondisi yang memaksanya mempunyai daerah hijau lebih luas ?  Dengan adanya keinginan lembaga pemerintah (dinas terkait) ingin melindungi sawah seperti amanah perundangan, maka berarti sudah ada kondisi yang mendukung. Apakah ada variabel pendorong kuat lain ? .  Dari pengamatan sementara, melalui survei awal dan diskusi awal, maka diperoleh fakta yang mendorong sangat kuat untuk dilakukan perlindungan lahan sawah di kota ini atau bisa juga mungkin memaksa pemkot melindungi sawah dalam kurun waktu tertentu. Sejauh ini dapat dilihat dari minimal 3 aspek yaitu keberadaan infrastruktur irigasi/drainase dengan dukungan air melimpah, luasnya sawah, dan banyaknya petani penggarap sawah.

Posisi kota di kaki gunung, membuat aliran air atau potensi air sangat besar. Saat ini sudah terbentuk saluran irigasi sehingga air mengalir ke kota, dan membuat kota ‘jadi’ segar.  Jika air ini dihentikan, maka sebagian kota mungkin menjadi kurang sejuk, padahal airnya sudah ada dan besar.  Jika sawah dihilangkan (atau diijinkan dikonversi) maka aliran alami menjadi tidak mempunyai nilai tambah yang besar. Dari sisi sosial, jumlah petani sawah yang mencapai ribuan (ditambah keluarga) yang dominan sebagai penggarap sangat tergantung ke lahan. Jika kota ini menghilangkan dominan sawah yang ada, apakah petani sudah siap berprofesi ke bukan pertanian.  Mengingat petani dominan sudah tua, maka tidak mudah mengalihkan profesi mereka. Berarti perlu dihitung akan bergantinya generasi petani baru yang perlu disiapkan apakah tetap petani atau bertukar dan dilatih. Saat ini ada tim studi sedang mengkaji secara cermat berapa luasan sawah yang akan dilindungi di kota ini, dan kemungkinan besar adalah lebih luas dari angka yang disajikan dalam perda penataan ruang.  Selain itu, dari investigasi sementara, variabel yang sudah lajim dipakai dalam melindungi lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) akan berkembang atau berbeda, khususnya adanya unsur yang memaksa yang sudah teridentifikasi saat ini atau argumen lain seperti usaha ‘perkotaan’ yang tergantung ke sawah, misalnya produk kuliner mochi, rengginang, ikan, atau lainnya.

DSC02782

Comments are closed.