A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

Mitigasi Bencana dan Adaptasi melalui Pengembangan Indikator Geo untuk Penataan Ruang dan Pengelolaan Lingkungan3) (Disaster Mitigation and Adaptation through Geoindicator development for Spatial Planning and Environmental Management)

Oleh: Dr Idwan Suhardi 1) dan Dr Baba Barus 2)

1) Deputi Pendayagunaan Ristek, Kemenristek 2) Ketua PS Mitigasi Bencana Kerusakan Lahan, Pasca Sarjana IPB dan Direktur Riset P4W IPB; 3) Disampaikan sebagai Makalah Kunci pada Lokakarya Isu Perubahan Iklim, Geologi, dan Prospek Pengembangan Batubara, yang diselenggarakan Badan Geologi, Kementrian ESDM,  20 Oktober 2010 Menado

 I.  Pendahuluan

Isyu kerusakan lingkungan dianggap semakin penting di Indonesia setelah berbagai peristiwa alam yang menimbulkan kerugian dan menjadi bencana.  Untuk mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut, maka disadari perlunya pemahaman secara keseluruhan, dalam konteks ini adalah memahami ekosistem, yang komponennya mencakup aspek fisik, biologi dan sosial-ekonomi, yang semuanya terletak dalam suatu unit ruang tertentu. Interaksi antara semua komponen tersebut menghasilkan lingkungan yang spesifik. Secara teori, interaksi yang tidak sesuai dengan kondisi daya dukung akan merusak ekosistem, dalam hal ini dapat menimbulkan bencana.

Kejadian berbagai bencana di Indonesia sebagian besar terkait secara langsung dengan proses geologi atau proses terkait seperti gempa, vulkanik,  tsunami, penurunan muka air tanah, dll (geological hazard), dan sebagian secara tidak langsung seperti kekeringan, kebakaran, longsor, abrasi, erosi, banjir, dan lain-lain (hydrometeorological hazard).  Untuk bahaya non-geological, peran manusia dapat mempercepat proses intraksi perubahan lingkungan.

Untuk menghindari bencana diperlukan pemahaman proses-proses di permukaan bumi (alami dan buatan), yang semuanya berinteraksi dengan iklim, yang membentuk suatu ekosistem spesifik.  Pemahaman proses atau hasilnya hendaknya dapat dipakai sebagai suatu ukuran untuk keperluan pengelolaan untuk menghindari kerusakan lingkungan atau memperbaikinya. Di Indonesia, upaya untuk mengelola lingkungan sudah diterjemahkan ke dalam peraturan perundangan seperti dalam UU Penataan Ruang.  Sejauh ini untuk pengelolaan lingkungan khususnya untuk bentuk operasional masih belum mantap (klik disini untuk makalah lengkap pdf)

 

Comments are closed.