A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

Pemetaan komoditas perkebunan kelapa sawit, karet dan kakao dan industrinya di Indonesia (Mapping of oilpalm, rubber and cacao plantation and it’s industry in Indonesia)

Oleh:  Baba Barus, Moentoha Selari, Iskandar Lubis, Sapta Rahardja, Hari Agung, Hermanu Wijaya, Supijatno, LS Iman, Bambang H. Trisasongko dan Diar Shiddiq.  Kerjasama antara Sucofindo, Kementan dan P4W, LPPM IPB, April 2010 – Januari 2011. Pekerjaan didukung oleh tim aisten sekitar 100 orang; Laporan dan data lengkap dapat menghubungi Kementrian Pertanian.

Rangkuman

Kegiatan merupakan kegiatan pengamatan 3 komoditas perkebunan di 147 kabupaten di Indonesia yaitu kelapa sawit, karet dan kakao melalui citra satelit ALOS AVNIR-2 dan beberapa wilayah dibantu dengan citra radar, Landsat, dan data lainnya lainnya, ditambah dengan verifikasi lapangan, dan industri primer yang hasilnya dikemas dalam sistem database/sistem informasi. Pengolahan dengan SIG dilakukan secara intensif. Rangkuman hasil kegiatan adalah sebagai berikut :

a. Luas aktual komoditas dan pengusahaan

Aktual komoditas perkebunan kelapa sawit yang diusahakan oleh rakyat (PR), swasta (PBN) dan swasta (PBS) adalah 336,301 Ha, 55,577 Ha, dan 209,825 Ha.  Komoditas karet yang diusahakan oleh  rakyat (PR), swasta (PBN) dan swasta (PBS) adalah 2,246,584 Ha, 197,614 Ha, dan 510,063 Ha. Sedangkan  komoditas perkebunan kakao diusahakan oleh rakyat (PR), swasta (PBN) dan swasta (PBS) adalah 141,119 Ha, 22,330 Ha, dan 8,929 Ha.  Daerah provinsi dominan untuk kelapa sawit antara lain Aceh, Bangka Belitung, dll, sedangkan daerah dominan karet adalah  Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Sumatra Utara.  Daerah dominan kakao adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat.

b. Kesesuaian fisik dan potensi pengembangan

Lahan yang Sesuai (S) untuk sawit meliputi luas 101.785.741 Ha menunjukkan  lahan-lahan secara fisik dan agroklimatik Sesuai (S) untuk sawit memiliki luas 49.085.600 Ha (50.3%) sebagian besar tersebar di Sumatra, Kalimantan dan Papua. Provinsi Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Papua Barat mempunyai lahan-lahan yang potensial untuk pengembangan kelapa sawit dengan luasan lebih dari dua juta hektar. Lahan yang sesuai (S) untuk karet seluas 101.785.741 Ha menunjukkan bahwa daerah yang Sesuai (S) memilik luas 46.967.552 Ha (46.14 %). Sebagian besar tersebar di Sumatra, Kalimantan dan Papua terutama provinsi Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Papau Barat.  Sedangkan lahan yang Sesuai (S) untuk kakao terdapat di sebagian besar  Sumatra dan Kalimantan yang meliputi luas 34.969.007 Ha (34.36 %).

c. Keragaan pengelolaan kebun dan produktivitas

Tingkat produktivitas kebun kelapa sawit yang dihasilkan ketiga pola pengusahaan adalah sebagai berikut (10-25) ton/ha/tahun (rata-rata 18 ton/ha/tahun) untuk PBN, 2-28 ton/ha/tahun (rata-rata 16 ton/ha/tahun) untuk PBS dan 3-25 ton/ha/tahun (rata-rata 12 ton/ha/tahun) untuk PR. Kemudian untuk produktivitas kebun karet adalah sebagai berikut 0,4-2 ton/ha/tahun (rata-rata 1,2 ton/ha/tahun)  untuk PBN, 0,2-1,2 ton/ha/tahun untuk PBS (rata-rata 0,7 ton/ha/tahun) dan 0.3-2.5 ton/ha/tahun (rata-rata 1.2  ton/ha/tahun) untuk PR. Sedangkan  tingkat produktivitas kakao adalah 0.25-0.8 ton/ha/tahun untuk PBN, 1 ton/ha/tahun untuk PBS dan 0.5-1.5 ton/ha/tahun untuk PR.

 d. Keragaan industri primer

Setelah dilakukan survei terhadap 27 provinsi yang ada, industri primer pengolahan kelapa sawit hanya didapatkan di 18 provinsi dan tersebar di 47 kabupaten. Jumlah keseluruhan industri primer pengolahan kelapa sawit tersebut adalah 88 industri. Kapasitas total terpasang industri primer pengolahan kelapa sawit sebesar 1.708 ton TBS/jam, namun kapasitas yang baru dimanfaatkan sebesar 1.4627 ton TBS/jam. Sedangkan industri pengolahan primer karet ditemukan di 16 provinsi  yang tersebar di 67 kabupaten. Jumlah keseluruhan industri primer pengolahan karet tersebut adalah 203 industri. Kapasitas terpasang industri primer pengolahan karet menjadi RSS sebesar 1.410.025,14 ton/tahun, namun kapasitas tersebut baru dimanfaatkan sebesar 1,332,862.16 ton/tahun. Sedangkan kapasitas industri primer pengolahan  crumb rubber terpasang sebesar 1.510.874  ton/tahun, namun kapasitas yang baru dimanfaatkan sebesar 1.175.081 ton/tahun. Untuk industri primer kakao, hasil survei menunjukkan bahwa industri primer ini terdapat di 10 provinsi dan tersebar di 32 kabupaten. Jumlah keseluruhan industri primer pengolahan kakao adalah 70 industri. Kapasitas terpasang industri primer pengolahan kakao sebesar 39.526 ton/tahun, namun kapasitas tersebut baru dimanfaatkan sebesar 12.835 ton/tahun.

d. Pengembangan database dan sistem informasi

Secara keseluruhan gambaran pemetaan perkebunan dan kinerja industri primer sudah menghasilkan kenampakan tertentu yang dapat dipakai untuk pengambilan kebijakan perkebunan dan pembuatan program pengembangan, investasi dan lainnya. Semua data ini tersimpan dalam suatu sistem database dan sistem informasi, yang selayaknya dimanfaatkan. Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah keberadaan data mentah seperti citra sangat baik dan besar, yang dapat dipergunakan untuk tujuan lain, seperti pemetaan komoditas lain, ataupun untuk tujuan analisis lain khususnya jika digabungkan dengan data lain baik yang ada dalam sistem database maupun setelah dilakukan penggabungan dengan data lain dari sumber berbeda.

Comments are closed.