A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

Pengembangan Geoindikator untuk Penataan Ruang

Oleh : B. Barus, M. Purba, Boedi Tjahjono, K. Gandasasmita,  O. Rusdiana, S. Tarigan, U. Sudadi, S. Effendi, dan L.S. Iman (Kerjasama antara Kemenristek dengan P4W, LPPM IPB (tahun 2009)

Ringkasan

Isyu kerusakan lingkungan dianggap semakin penting di Indonesia setelah berbagai peristiwa alam yang menimbulkan kerugian dan menjadi bencana.  Kejadian bencana di Indonesia sebagian besar terkait secara langsung dengan proses geologi seperti gempa, vulkanik,  tsunami, penurunan muka air tanah, dll dan sebagian secara tidak langsung seperti kekeringan, kebakaran, longsor, abrasi, erosi, banjir, dan lain-lain.  Mengingat lingkungan ditentukan oleh banyak variabel, maka disadari bahwa untuk mengelola lingkungan diperlukan pendekatan multidisiplin, dan salah satu yang diperlukan adalah indikator, dan indikator sosial-ekonomi dan biologi sudah berkembang. Sedangkan indikator fisik lingkungan relatif bervariasi perkembangannya, dan di USA diistilahkan dengan geo-indikator, yang dijadikan sebagai alat pengukur perubahan lingkungan.  Kondisi fisik bumi bersifat dinamik, yang prosesnya tetap akan terjadi baik karena intervensi manusia atau tidak.  Sejauh ini indikator geo yang dipahami umumnya terkait dengan proses geologi yang memakan waktu sangat lama sehingga relatif sulit diamati secara kasat mata dan sulit diprediksi, dan pada akhirnya sulit dipakai secara langsung dalam perencanaan dan pengelolaan ruang.

Di Indonesia, indikator geo, yang secara operasional dapat dilihat dari aspek terain, tanah, air maupun dari aktivitas diatasnya. Sejauh ini sudah ada berbagai komponen indikator fisik ini  yang dipakai dalam perencanaan ruang, tetapi hanya beberapa yang sudah bersifat operasional, dan sebagian besar belum.  Padahal mengingat kasus bencana makin intensif terjadi di negara kita, baik karena secara alami saat ini sedang sangat dinamik, atau karena aktivitas manusia yang semakin tinggi semakin mempercepat dinamika yang terjadi, dan ini sejalan dengan pesan dalam peraturan penataan ruang, yang menuntut dilakukannya revisi rencana pemanfaatan ruang di Indonesia.

Pengkajian ini dilakukan pada bulan Juni – November 2009, dengan pendekatan studi literatur, pengembangan konsep dan presentasi di beberapa seminar dan diskusi, pengujian dengan data lapang di Jawa Barat, dan penyusunan konsep pembuatan indeks geoindikator untuk beberapa penyebab kebencanaan di Indonesia.

Hasil kegiatan ini adalah terbentuk geoindikator untuk longsor, abrasi, erosi, kebakaran hutan dan lahan, banjir, pencemaran tanah dan kekeringan.  Indikator-indikator  ini dibuat dalam bentuk indeks dengan berbagai faktor pembentuknya. Selain itu dalam pengembangan ini juga dihasilkan ilustrasi cara menerapkan cara pembuatan geoindikator dengan teknologi SIG dan penerapan indeks geoindikator dalam keperluan penyusunan penataan ruang (perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian) di Indonesia

Kata kunci: geoindikator, indeks, bencana, penataan ruang, teknologi SIG

Comments are closed.